Fakta Kehidupan

September 24, 2007 oleh ROCH AJIONO

Fakta Kehidupan
Oleh: Ven. Narada Maha Thera

Kita hidup dalam dunia yang tidak seimbang. Dunia yang tidak seluruhnya berisi bunga mawar atau pun seluruhnya berduri. Bunga mawar itu lembut, indah dan harum, tetapi tangkainya penuh dengan duri. Bagaimanapun, orang tidak akan meremehkan bunga mawar karena ada duri-durinya.

Bagi orang yang optimis, dunia ini seluruhnya berisi bunga mawar, bagi seorang yang pesimis, dunia in seluruhnya berduri. Tapi untuk seorang realistis, dunia ini tidak seluruhnya berisi bunga mawar ataupun seluruhnya berduri. Baginya dunia berisi keduanya, bunga mawar yang indah dan duri-duri yang tajam.

Orang yang mengerti tidak akan terbius oleh keindahan bunga mawar, tapi ia akan melihatnya sebagaimana adanya. Dengan mengetahui dengan baik sifat dari duri-duri, ia pun akan melihat mereka sebagaimana adanya dan akan berhati-hati agar tidak terluka.

Bagaikan bandul yang terus menerus bergoyang ke kiri dan kanan, empat keadaan yang diinginkan dan empat keadaan yang tidak diinginkan terus berlangsung di dunia ini. Setiap orang dalam hidupnya tanpa kecuali akan menghadapi keadaan-keadaan ini. Keadaan ini adalah keuntungan dan kerugian, terkenal akan kebaikan dan terkenal akan keburukan, pujian dan celaan, kegembiraan dan kesedihan.

Keuntungan Dan Kerugian

Pengusaha, sesuai hukumnya , akan mengalami keuntungan maupun kerugian. Adalah hal yang wajar bahwa seorang akan merasa puas diri ketika ia memperoleh keuntungan. Dalam hal ini tidak ada yang salah. Keuntungan baik legal maupun ilegal menghasilkan kenikmatan dalam jumlah tertentu yang dicari oleh umat manusia biasa.

Tanpa saat-saat yang menyenangkan, bagaimanapun singkatnya, hidup tak akan berarti. Dalam dunia yang kacau dan penuh persaingan, adalah benar bahwa orang hendaknya menikmati beberapa jenis kegembiraan yang menyenangkan hatinya. Kegembiraan ini, walaupun secara materil, akan membantu meningkatkan kesehatan dan umur penjang.

Masalah akan timbul jika kerugian terjadi. Keuntungan diterima dengan gembira, tapi tidak demikian halnya dengan kerugian. Kerugian sering menyebabkan penderitaan batin dan kadang kala usaha bunuh diri dilakukan karena karena kerugian yang tidak tertanggulangi. Dalam situasi yang berlawanan inilah, seseorang hendaknya menunjukkan keberanian moral yang tinggi dan mempertahankan keseimbangan batin yang baik. Kita semua pernah mengalami jatuh dan bangun dalam perjuangan hidup. Seseorang hendaknya menyiapkan diri menghadapi yang baik maupun yang buruk, sehingga ia tidak terlalu kecewa.

Ketika sesuatu dicuri, orang umumnya merasa sedih. Tetapi dengan merasa sedih, ia tidak akan dapat mengganti kehilangannya. Ia hendaknya menerima kehilangan itu secara filosofis. Hendaknya ia memiliki sikap yang murah hati dengan berpikir: “Si pencuri lebih membutuhkan barang tersebut daripada saya, semoga ia berbahagia.” Pada masa Sang Buddha, seorang wanita bangsawan mempersembahkan makanan kepada Yang Ariya Sariputra dan beberapa orang bhikkhu. Ketika melayani mereka, ia menerima pesan yang menyatakan bahwa suatu musibah telah terjadi pada keluarganya. Tanpa menjadi cemas, dengan tenang ia menaruh pesan itu dalam kantung di pinggangnya dan melayani para bhikkhu seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seorang pelayannya yang membawakan guci berisi mentega(terbuat dari susu kerbau India) untuk dipersembahkan kepada para bhikkhu, secara tidak disengaja tergelincir dan memecahkan guci yang dibawanya. Mengira bahwa sang wanita akan merasa sedih karenanya , Yang Ariya Sariputra menghiburnya dengan berkata bahwa segala sesuatu yang dapat pecah suatu saat pasti akan pecah. Sang wanita berkata, “Bhante, apalah artinya kehilangan yang tak berarti ini? Saya baru saja menerima pesan yang menyatakan suatu musibah telah menimpa keluarga saya. Saya menerima hal itu tanpa merasa kehilangan keseimbangan batin saya. Saya melayani anda semua walaupun ada berita buruk tersebut.”

Ketabahan semacam ini yang dimiliki wanita tersebut sungguh sangat terpuji. Suatu saat Sang Buddha pergi mencari sedekah di suatu desa. Karena campur tangan Mara, Sang Buddha tidak memperoleh makanan. Ketika Mara menanyakan apakah Sang Buddha merasa lapar, Sang Buddha dengan agung menerangkan sikap mental mereka yang telah terbebas dari kekotoran batin, dan menjawab, “Ah, betapa bahagianya kita yang hidup terbebas dari kekotoran batin. Sebagai pemberi kebahagiaan, kita bahkan dapat disamakan dengan para dewa di alam cahaya.”

Pada kesempatan lain, Sang Buddha dan para muridnya berdiam selama musim hujan di suatu desa atas undangan seorang brahmana yang ternyata benar-benar lupa akan tugasnya untuk memenuhi kebutuhan Sang Buddha dan Sangha. Selama tiga bulan, walaupan Yang Ariya Monggalana rela berkorban untuk mendapatkan makanan dengan kekuatan batinnya, Sang Buddha tidak mengeluh, dan merasa puas atas rumput makanan kuda yang ditawarkan oleh seorang penjual kuda.

Seseorang yang tidak beruntung harus berusaha untuk menerima kenyataan secara dewasa. Sungguh sayang, orang menghadapi kerugiannya seringkali secara kelompok dan tidak sendirian. Ia harus menghadapinya dengan ketenangan dan memandangnya sebagai suatu kesempatan untuk menumbuhkan kebajikan yang mulia.

Terkenal Akan kebaikan Dan Terkenal Akan Keburukan

Terkenal atas hal yang baik dan terkenal atas hal yang buruk adalah pasangan keadaan lain yang tidak terhindarkan, yang kita hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Terkenal karena hal yang baik kita terima, terkenal karena hal yang buruk sangat kita benci. Terkenal karena hal yang baik menggembirakan hati kita, terkenal karena hal yang buruk menyedihkan kita. Kita ingin menjadi terkenal. Kita mendambakan foto kita terpampang di surat kabar. Kita sangat gembira ketika kegiatan kita, bagaimanapun tidak berartinya, dipublikasikan. Kadang kala kita bahkan menginginkan publikasi yang berlebihan.

Banyak orang ingin melihat fotonya di majalah, seberapapun biayanya yang harus dikeluarkannya. Untuk mendapatkan kehormatan, sebagian orang menawarkan hadiah atau memberikan sumbangan besar kepada orang yang berkuasa. Demi ketenaran, sebagian orang memamerkan kedermawanan mereka dengan memberikan sedekah kepada seratus orang bhikkhu atau lebih, tetapi mungkin mereka sama sekali tidak memperdulikan penderitaan orang miskin dan orang yang membutuhkan di lingkungan sekitar mereka. Seseorang dapat mendenda dan menghukum orang yang sangat kelaparan, yang untuk menghilangkan rasa laparnya mencuri sebutir kelapa di kebunnya, tetapi ia tidak ragu-ragu untuk mempersembahkan seribu butir kelapa untuk mendapatkan nama baik.

Inilah kelemahan-kelamahan manusia. Kebanyakan orang memiliki maksud terselubung. Orang yang tidak egois yang bertindak tanpa terpengaruhi oleh perasaannya sangatlah jarang di dunia ini. Kebanyakan orang yang terikat keduniawian memiliki maksud terselubung. Siapakah orang yang sempurna? Berapa banyak orang yang memiliki maksud yang benar-benar murni? Berapa banyak orang yang benar-benar tidak mementingkan diri sendiri dan mendahulukan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain?

Kita tidak perlu memburu ketenaran. Jika kita benar-benar pantas untuk menjadi terkenal, ketenaran akan datang kepada kita tanpa perlu dicari. Kumbang akan tertarik pada bunga yang berisi madu. Bunga sendiri tidak mengundang kumbang.

Tentu saja, kita tidak hanya merasa senang tapi juga sangat bahagia ketika ketenaran kita tersebar. Tetapi kita harus menyadari bahwa ketenaran, kehormatan, dan kekuasaan hanyalah bersifat sementara. Mereka dapat menghilang begitu saja.

Bagaimana dengan ketenaran akan keburukan? Hal ini tidak enak didengar dan mengganggu pikiran. Kita pasti gelisah ketika kata-kata tentang reputasi buruk kita menusuk telinga. Perasaan sakit akan lebih hebat ketika laporan tersebut tidak adil dan fitnah belaka.

Umumnya diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mendirikan gedung yang megah. Dalam satu atau dua menit, dengan senjata penghancur modern, dengan mudah gedung itu runtuh. Kadang kala diperlukan waktu bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup untuk membangun reputasi yang baik. Dalam waktu singkat nama baik yang diperoleh dengan susah payah itu hancur. Tidak ada orang yang terlepas dari kata penghancur yang dimulai dengan kata ‘tetapi’. “Ya, ia orang baik, dia melakukan ini dan melakukan itu,” tetapi reputasi yang baik ini diperburuk dengan kata ‘tetapi’. Anda mungkin hidup sebagai seorang Buddha tetapi anda tidak akan terlepas dari kritik, serangan, dan hinaan.

Sang Buddha adalah guru yang paling dikenal dan paling sering difitnah dalam masanya. Orang-orang besar sering kali dikenal, walaupun kadang kala mereka dikenal bukan karena hal-hal yang baik. Beberapa orang yang membenci Sang Buddha menyebarkan desas-desus bahwa seorang wanita sering bermalam di vihara. Setelah gagal dalam upaya ini, mereka menyebarkan fitnah diantara penduduk bahwa Sang Buddha dan para muridnya membunuh wanita tersebut dan menyembunyikan mayatnya di timbunan sampah bunga-bunga layu dalam vihara. Para penghasut akhirnya mengakui bahwa merekalah pelakunya.

Ketika misi bersejarah-Nya berhasil dan banyak orang meminta ditahbiskan oleh-Nya, para musuh memfitnah-Nya, dengan berkata bahwa Beliau merebut putra dari para ibu, memisahkan para istri dari suami mereka, dan bahwa Beliau menghambat kemajuan negara.

Gagal dalam usaha-usaha untuk menghancurkan sifat-Nya yang mulia, Sepupu-Nya sendiri Devadatta, murid-Nya yang iri, berusaha membunuh-Nya dengan menggulingkan batu dari atas, tetapi gagal. Jika demikian menyedihkannya nasib Sang Buddha yang sempurna dan tidak bersalah, bagaimanakah nasib dari manusia biasa yang tidak sempurna?

Semakin tinggi anda mendaki bukit, semakin mudah anda terlihat dan tampak dalam mata orang lain. Punggung anda terlihat, tapi bagian depan tersembunyi. Dunia mudah menemukan kesalahan, menunjukkan kegagalan dan keraguan anda, tetapi mangabaikan kebajikan anda yang lebih mudah terlihat. Kipas perontok merontokkan sekam tapi tetap membiarkan padinya, sebaliknya saringan mempertahankan ampas yang kasar dan membiarkan sari buah yang manis mengalir. Orang yang bermoral mengambil bagian yang halus dan menghilangkan bagian yang kasar, Orang yang tidak bermoral memgambil bagian yang kasar, tapi menghilangkan bagian yang halus.

Ketika anda difitnah, secara sengaja atau tidak, ingatlah nasehat dari Epictus, untuk berpikir atau berkata, “O, dengan pengenalannya yang terbatas dan pengetahuannya yang sedikit tentang saya, saya hanya sedikit dikritik. Tetapi jika ia mengenal saya lebih baik, maka lebih serius dan lebih hebatlah tuduhan yang ditujukan kepada saya.

Tidaklah perlu menghabiskan waktu memperbaiki laporan-laporan palsu kecuali jika keadaan memaksa anda membuat suatu penjelasan. Musuh anda akan senang ketika ia melihat anda terluka. Inilah yang sesungguhnya diharapkannya. Jika anda acuh saja, tuduhan itu akan menghilang dengan sendirinya.

Dengan melihat kesalahan orang lain, hendaknya kita berlaku seperti orang buta. Dalam mendengar kritikan yang tidak adil kepada orang lain, hendaknya kita berlaku seperti orang tuli. Dalam membicarakan keburukan orang lain, hendaknya kita berlaku seperti orang bisu.

Adalah tidak mungkin untuk menghentikan tuduhan, laporan, maupun desas-desus yang salah. Dunia ini penuh dengan duri dan kerikil. Adalah tidak mungkin untuk memindahkan seluruhnya. Tapi, jika kita harus berjalan melewati rintangan tersebut, daripada mencoba memindahkannya, lebih baik memakai sepasang sandal dan berjalan tanpa terluka.

Dharma mengajarkan: Berlakulah seperti seekor singa yang tidak takut akan suara apapun. Berlakulah seperti angin yang tidak terikat oleh jaring. Berlakulah seperti bunga teratai yang tidak terkotori oleh lumpur dimana ia tumbuh. Berkelanalah sendiri bagaikan seekor badak. Sebagai raja rimba, singa tidak memiliki rasa takut. Secara alamiah singa tidak dapat ditakuti oleh geraman dari binatang lain. Dalam dunia ini, kita dapat mendengar laporan palsu, tuduhan yang tidak benar, dan kata-kata hinaan. Seperti seekor singa, kita hendaknya tidak mendengarkannya. Seperti sebuah bumerang, semua akan kembali ke tempat asalnya. Anjing menggonggong tapi kafilah tetap berlalu.

Kita hidup dalam dunia yang berlumpur. Begitu banyak bunga teratai muncul dari lumpur tanpa terkotori dan menghiasi dunia. Bagaikan bunga teratai kita hendaknya mencoba menjalani kehidupan yang tidak tercela dan mulia, tidak memperdulikan lumpur yang mungkin dilemparkan kepada kita.

Kita hendaknya mengharapkan lumpur yang dilemparkan kepada, bukan bunga mawar. Dengan demikian kekecewaan tidak akan terjadi. Walaupun sulit, kita hendaknya berusaha mengembangkan ketidakterikatan. Kita datang sendiri dan kita akan pergi sendiri. Ketidakterikatan adalah suatu kebahagiaan di dunia ini.

Tanpa memperdulikan fitnahan, kita hendaknya berkelana sendiri melayani orang lain dengan seluruh kemampuan kita. Hal yang agak aneh bahwa orang-orang besar telah difitnah, dicemarkan namanya, diracun, disalib atau ditembak. Socrates yang agung telah diracun. Yesus Kristus yang mulia telah disalibkan. Mahatma Gandhi yang tidak bersalah telah ditembak. Apakah berbahaya untuk menjadi orang yang terlalu baik? Ya, selama hidup mereka dikritik, diserang, dan dibunuh. Setelah kematiannya, mereka dipuja dan dihormati. Orang-orang besar tidak peduli akan kemahsyuran ataupun namanya tercemar. Mereka tidak marah ketika dikritik atau difitnah karena mereka bekerja bukan untuk nama baik atau kemahsyuran. Mereka tidak peduli apakah orang menghargai jasa mereka atau tidak. Mereka memiliki hak atas kerja mereka, tapi tidak atas buah yang diperolehnya (kritik dan hinaan).

Pujian Dan Celaan

Adalah hal yang wajar untuk menjadi bersemangat ketika dipuji dan menjadi tertekan ketika dicela. Dari sudut pandang duniawi, satu kata pujian dapat berdampak luas. Dengan sedikit pujian, bantuan dapat diperoleh dengan mudah. Satu kata pujian cukup untuk menarik pendengar sebelum seseorang berbicara. Jika pada awalnya seorang pembicara memuji pendengar, ia akan didengarkan. Jika ia mengkritik pendengar pada awalnya, tanggapan yang diperolehnya tidak akan memuaskan.

Orang yang bermoral tidak menggunakan sanjungan untuk mendapatkan bantuan, dan juga tidak mengharapkan untuk disanjung-sanjung oleh orang lain. Orang yang pantas dipuji akan mereka puji tanpa rasa iri. Orang yang pantas dicela akan mereka cela tidak dengan merendahkan, tetapi dilandasi kasih sayang dengan tujuan untuk memperbaiki mereka.

Bagaimana dengan celaan? Sang Buddha bersabda, “Mereka yang banyak bicara dicela. Mereka yang sedikit bicara dicela. Mereka yang diam juga dicela. Di dunia tidak ada yang tidak dicela.” Sebagian besar orang di dunia menyatakan bahwa Sang Buddha tidak disiplin, namun bagaikan seekor gajah di medan perang menahan semua panah yang ditembakkan kepadanya, Sang Buddha menahan segala hinaan.

Orang yang bermoral rendah dan jahat cenderung mencari keburukan orang lain, tetapi tidak akan mencari kebaikannya. Tidak ada orang yang sempurna baiknya. Sebaliknya tidak ada orang yang benar-benar jahat. Ada keburukan dari orang yang terbaik di antara kita. Ada kebaikan dari orang yang terjahat di antara kita.

Sang Buddha bersabda, “Ia yang berdiam diri bagaikan gong yang telah pecah ketika diserang, dihina, dan dikutuk, Saya sebut berada dalam Nibbana, walaupun ia belum mencapai Nibbana.” Pada suatu kesempatan, Sang Buddha diundang oleh seorang brahmana untuk dijamu di rumahnya. Atas undangan itu, Sang Buddha berkunjung ke rumahnya. Namun bukan menjamu-Nya, brahmana tersebut mencaci maki-Nya dengan kata-kata kotor.

Sang Buddha dengan sopan bertanya, “Apakah tamu-tamu datang ke rumah anda, brahmana yang baik?” “Ya,” jawab brahmana. “Apa yang kamu lakukan ketika tamu datang?” “Oh, kami akan menyiapkan jamuan yang mewah.” “Jika mereka tidak datang?” “Wah, dengan senang hati kita menghabiskan jamuan tersebut.” “Baiklah , brahmana yang baik. Anda mengundang saya untuk dijamu dan anda telah menjamu saya dengan caci maki. Saya tidak menerima apa-apa, silahkan anda mengambilnya lagi.” Sang Buddha tidak membalas. Tidak membalas merupakan nasehat Sang Buddha. “Kebencian tidak dapat diatasi dengan kebencian tetapi hanya dengan kasih sayang saja kebencian itu reda,” adalah ucapan mulia dari Sang Buddha.

Hinaan adalah hal yang biasa dalam kemanusiaan. Semakin banyak anda bekerja dan semakin hebat anda, anda semakin dihina dan dipermalukan. Yesus Kristus telah dihina, dipermalukan, dan disalibkan. Socrates dihina oleh istrinya sendiri. Istrinya selalu memarahinya. Suatu hari istrinya sakit dan tidak mampu melakukan tugas rutinnya yang galak. Socrates meninggalkan rumahnya hari itu dengan wajah yang sedih. Teman-temannya bertanya, “Anda seharusnya merasa gembira karena tidak memperoleh omelan yang tidak menyenangkan itu.” “Oh, tidak! Ketika ia memarahi saya, saya memperoleh kesempatan yang baik untuk melatih kesabaran. Itulah alasan mengapa saya bersedih,”

Kegembiraan dan Kesedihan

Kebahagiaan dan kesedihan adalah faktor terkuat yang mempengaruhi umat manusia. Apa yang dapat ditahan dengan mudah adalah sukkha (kebahagiaan), Apa yang sulit ditahan adalah dukkha (kesedihan). Dapatkah harta benda memberikan kebahagiaan sejati? Jika demikian, seorang milyuner tidak akan merasa frustasi akan kehidupannya. Di negara-negara maju, begitu banyak orang menderita penyakit mental. Mengapa hal ini terjadi jika harta benda saja dapat memberikan kebahagiaan?

Dapatkah kekuasaan akan seluruh dunia menghasilkan kebahagiaan? Alexander Agung, yang penuh dengan kemenangan berbaris menuju India, menaklukkan daerah-daerah di sepanjang perjalanannya, menarik nafas panjang karena tidak ada lagi daerah di bumi yang bisa dikuasai.

Kebahagiaan sejati ditemukan dalam diri kita, dan tidak dapat dinyatakan berdasarkan kekayaan, kekuasaan, kehormatan, atau penaklukkan wilayah. Apa yang menggembirakan bagi seseorang mungkin bukanlah kegembiraan bagi orang lain. Apa yang menjadi makanan dan minuman bagi seseorang mungkin merupakan racun bagi orang lain.

Menjalani hidup yang bebas dari tuduhan adalah satu dari sumber-sumber kebahagiaan terbaik bagi umat awam. Bagaimanapun, sangatlah sulit untuk memperoleh pandangan yang baik dari semua orang. Orang yang berpikiran mulia hanya peduli akan kehidupan yang tak tercela dan tidak peduli kepada tanggapan orang lain.

Kesedihan atau penderitaan datang dalam berbagai bentuk. Kita menderita ketika kita mengalami usia tua, yang sebenarnya merupakan hal yang wajar. Dengan ketenangan, kita harus menahan penderitaan karena usia tua. Lebih menyakitkan adalah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit. Bahkan sakit gigi yang teringan atau sakit kepala terkadang sulit untuk ditahan.

Ketika kita menderita penyakit, tanpa menjadi khawatir hendaknya kita dapat menahannya, betapapun sakitnya. Kita harus menghibur diri sendiri dengan berpikir bahwa kita telah lolos dari penyakit yang lebih parah. Seringkali kita berpisah dengan orang yang dekat dan kita sayangi. Kita hendaknya menyadari bahwa segala pertemuan harus diakhiri dengan perpisahan. Kadangkala kita dipaksa berada dengan orang yang kita benci. Kita hendaknya menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru atau mencoba mengatasi rintangan tersebut.

Bahkan Sang Buddha, mahluk yang sempurna, yang telah menghancurkan segala kekotoran batin, harus menahan penderitaan fisik yang disebabkan oleh penyakit dan kecelakaan. Sang Buddha menderita sakit kepala terus menerus. Akibat Devadatta, kaki-Nya terluka oleh pecahan batu. Kadang kala Beliau terpaksa menahan rasa lapar. Karena ketidakpatuhan murid-murid-Nya, Beliau terpaksa beristirahat di hutan selama tiga bulan, dialasi daun-daun, menentang angin dingin, Beliau mempertahankan ketenangan yang sempurna. Di antara kesakitan dan kebahagiaan Beliau hidup dengan pikiran yang seimbang.

Ketika seorang ibu ditanya mengapa ia tidak menangisi kematian tragis putra tunggalnya, ia menjawab, “Tanpa diundang ia datang. Tanpa diberitahu ia pergi. Ia datang seperti ia pergi, mengapa kita harus menangis? Apakah gunanya menangis?” Kematian yang tidak terhindarkan menimpa kita semua tanpa kecuali, kita harus menghadapinya dengan ketenangan yang sempurna.

Sang Buddha bersabda: “Ketika tersentuh oleh kondisi duniawi, pikiran seorang Arahat tidak pernah terpengaruhi.”

You Are Responsible!

September 24, 2007 oleh ROCH AJIONO

You Are Responsible!
Oleh: K. Sri Dhammananda.

ANDALAH YANG BERTANGGUNG JAWAB

Sebagaimana sudah menjadi sifat manusia, kita semuanya cenderung menyalahkan orang-orang lain untuk kekurangan-kekurangan atau kemalangan-kemalangan kita sendiri. Pernah anda berpikir untuk sekejap, bahwa mungkin anda sendiri yang bertanggung jawab atas persoalan-persoalan anda? Kesedihan-kesedihan dan kesengsaraan-kesengsaraan anda bukanlah disebabkan kutukan keluarga yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Juga bukan disebabkan dosa asal yang dibuat oleh nenek moyang yang bangkit dari kubur untuk menghantui anda. Juga kesedihan-kesedihan dan kesengsaraan-kesengsaraan anda bukan diciptakan oleh dewa atau mara. Kesedihan anda disebabkan oleh anda sendiri. Kesedihan anda adalah akibat perbuatan anda sendiri. Anda adalah penghukum diri anda; anda adalah pembebas diri anda sendiri.

Anda harus belajar memikul tanggung jawab kehidupan anda dan mengakui kelemahan anda sendiri, tanpa menyalahkan atau mengganggu orang-orang lain. Ingatlah pepatah lama:

“Orang yang tidak beradab selalu menyalahkan orang lain; orang yang setengah beradab menyalahkan diri sendiri dan orang yang betul-betul beradab tidak menyalahkan siapa-siapa.”

Sebagai makhluk beradab, anda harus belajar memecahkan persoalan anda sendiri tanpa menyalahkan orang lain. Bila setiap orang mencoba memperbaiki dirinya sendiri, tidak akan ada persoalan didunia ini. Tetapi banyak orang tidak berusaha untuk menyadari, bahwa mereka sendirilah yang bertanggung jawab atas banyak kesusahan-kesusahan yang menimpa mereka. Mereka lebih suka mencari kambing hitam. Mereka melihat, di luar diri merekalah sumber kesusahan-kesusahan itu, karena mereka enggan mengakui kelemahan-kelemahan diri sendiri.

Pikiran manusia penuh dengan penipuan pada diri sendiri, sehingga tidak mau mengakui kelemahannya sendiri. Dia akan coba mencari alasan-alasan untuk membenarkan tindakannya dan menciptakan khayalan bahwa dia tidak bersalah. Bila manusia benar-benar mau bebasm dia harus mempunyai keberanian untuk mengakui kelemahannya sendiri. Buddha mengatakan:

“Adalah mudah untuk melihat kesalahan-kesalahan orang lain tetapi sukar untuk melihat kesalahan diri sendiri.”

Akuilah kelemahan anda sendiri, jangan salahkan orang lain. Anda harus menyadari, bahwa andalah yang bertanggung jawab atas kesengsaraan-kesengsaraan dan kesukaran-kesukaran yang menimpa anda. Anda harus mengerti bahwa cara anda berpikir juga menciptakan kondisi-kondisi yang menimbulkan kesukaran-kesukaran bagi anda. Anda harus menyadari bahwa pada setiap waktu, andalah yang bertanggung jawab atas apa saja yang menimpa anda.

“Tidak ada yang salah dengan dunia ini, tetapi ada sesuatu yang salah dalam diri kita.”

ANDALAH YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS HUBUNGAN ANDA DENGAN ORANG LAIN.

Ingatlah bahwa apapun yang terjadi, anda tidak akan merasakannya sebagai penderitaan bila anda tahu bagaimana menjaga keseimbangan pikiran, anda hanya akan menderita oleh sikap mental yang salah yang anda pakai terhadap diri anda dan terhadap orang-orang lain. Bila anda bersikap kasih terhadap orang-orang lain, anda akan menerima kasih sebagai balasannya. Bila anda menunjukkan rasa benci, anda pasti tidak akan menerima kasih sebagai balasannya. Seorang yang marah mengeluarkan racun dan dia lebih menderita dari pada orang lain. Setiap orang yang bijaksana tidak marah oleh kemarahan, ia tidak akan menderita. Ingatlah bahwa tidak ada yang dapat “melukai” anda. Bila orang lain memarahi atau memaki anda, tetapi anda mengikuti Dhamma (kebenaran), maka Dhamma akan melindungi anda terhadap serangan-serangan yang tidak adil.

Anda harus mengembangkan keberanian untuk mengakui bila anda menjadi korban kelemahan diri anda. Anda harus mengakui bila anda bersalah. Janganlah ikuti orang yang tidak beradab yang selalu menyalahkan orang-orang lain. Janganlah memakai orang lain sebagai kambing hitam anda – ini sangat hina. Ingatlah bahwa anda mungkin membodoh-bodohi beberapa orang untuk beberapa waktu tetapi tidak semua orang untuk sepanjang waktu. Buddha mengatakan:

“Orang bodoh yang tidak mengakui dia bodoh, adalah benar-benar bodoh. Dan orang bodoh yang mengakui dia bodoh, adalah bijaksana dalam hal ini.”

Buddha mengatakan:

“Siapa yang menyakiti orang yang baik (yang tidaki menyakiti orang lain), yang bersih dan tidak bersalah, terhadap si “bodoh” itu kejahatan akan berbalik kepadannya seperti debu halus yang dilemparkan melawan angin.”

Bila anda membiarkan orang-orang lain memenuhi keinginan-keinginannya untuk “melukai” anda, andalah yang bertanggung jawab.

JANGANLAH MENYALAHKAN ORANG-ORANG LAIN. TERIMALAH TANGGUNG JAWAB.

Anda harus belajar menjaga pikiran anda dengan memelihara pandangan yang benar, sehingga setiap peristiwa-peristiwa luar tidak dapat mempengaruhi keseimbangan anda. Anda berada dalam sudut yang sempit. Anda jangan menyalahkan keadaan bila ada yang salah. Janganlah anda berpikir bahwa anda sial, korban dari nasib atau maksud jahat orang lain. Apa sekalipun yang anda berikan sebagai alasan, anda jangan mengelakkan tanggung jawab sendiri untuk tindakan-tindakan anda sendiri dengan menyalahkan keadaan. Berusahalah memecahkan persoalan-persoalan anda tanpa menunjukkan muka masam. Dalam waktu-waktu yang sulit, bekerjalah dengan gembira, walaupun keadaan sangat menekan. Beranilah menerima perubahan bila perubahan diperlukan, tetapi cukuplah tenang menerima apa yang tidak dapat anda rubah. Cukup bijaksanalah memahami kondisi-kondisi dunia yang biasa untuk setiap orang. Cukup bijaksanalah menghadapi persoalan-persoalan tertentu tanpa untuk anda atasi. Mereka-mereka yang mencoba berbuat jasa terhadap orang-orang lain mendapat salah lebih banyak dari pada mereka yang tidak berbuat jasa, tetapi ini tidak berarti bahwa mereka harus dihalangi. Mereka seharusnya bijaksana untuk menyadari bahwa jasa yang dibuat tanpa pamrih pribadi, akan membawa hadiah yang tersendiri pula.

Kasih tanpa pengetahuan dan pengetahuan tanpa kasih tidak dapat menghasilkan kehidupan yang baik.” (B. Russel).

ANDA BERTANGGUNG JAWAB UNTUK KETENANGAN BATHIN ANDA

Anda harus belajar melindungi kedamaian dan ketenangan batiniah yang telah anda ciptakan dalam pikiran anda. Untuk memelihara kedamaian batiniah, anda harus mengetahui bilakah memasrahkan diri anda; anda harus mengetahui bilakah membuang keangkuhan anda; bilakah menekan keakuan anda yang palsu, bilakah merubah kekerasan sikap atau keyakinan palsu anda dan bilakah berlaku sabar. Jangan biarkan orang lain merampas kedamaian batiniah anda, dan anda dapat memelihara kedamaian batiniah anda bila anda tahu bagaimana bertindak dengan bijaksana. Kebijaksanaan datang melalui pengakuan akan kebodohan (ketidaktahuan).

“Manusia bukanlah malaikat yang jatuh, tetapi binatang yang bangkit.”

SIKAP YANG TEPAT TERHADAP KRITIK

Anda harus belajar bagaimana menjaga diri anda dari kritik yang tidak adil dan bagiamana mempergunakan kritik yang membangun. Anda haruslah melihat secara objektif terhadap kritik yang diberikan orang-orang lain kepada anda. Bila kritik terhadap anda itu benar, ada dasarnya dan diberikan dengan maksud baik, maka terimalah kritik itu dan pergunakanlah. Tetapi, bila kritik itu tidak benar dan tidak berdasar dan diberikan dengan maksud jahat, anda tidak harus menerima kritik jenis ini. Bila anda tahu bahwa sikap anda benar dan dihargai oleh orang-orang yang bijaksana dan berada, maka janganlah mempedulikan kritik yang tidak berdasar. Pengetahuan anda tentang kritik yang membangun dan yang merusak adalah penting.

“Tidak ada orang yang tidak bersalah didunia ini.” JANGAN HARAPKAN APA-APA DAN TIDAK ADA YANG AKAN MENGECEWAKAN ANDA

Anda dapat melindungi diri anda dari kekecewaan-kekecewaan dengan tidak mempunyai harapan-harapan yang berlebih-lebihan. Bila anda tidak mengharapkan apa-apa, maka tidak ada yang dapat mengecewakan anda. Jangan harapkan imbalan atas kebaikan yang anda telah perbuat. Berbuat baiklah demi perbuatan baik itu sendiri. Bila anda dapat menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun, maka anda tidak akan mengalami kekecewaan. Anda dapat menjadi orang besar! Kegembiraan yang timbul dalam pikiran anda karena kebaikan yang telah anda perbuat, itu sendiri adalah imbalan yang besar. Kegembiraan menciptakan kepuasan dalam hidup kita.

Mungkin anda adalah orang yang sifatnya baik dan anda tidak berbuat yang mencelakakan orang-orang lain. Tetapi anda disalahkan orang-orang lain sekalipun berbuat baik. Anda harus menghadapi kesukaran-kesukaran dan kekecewaan-kekecewaan sekalipun anda telah menolong orang-orang lain dan telah berbuat baik bagi orang-orang lain. Anda mungkin bertanya: “Bila kebaikan menimbulkan kebaikan dan kejahatan menimbulkan kejahatan , mengapa saya harus menderita bila saya benar-benar tidak bersalah? Mengapa saya harus mengalami begitu banyak kesulitan? Mengapa saya mendapatkan begitu banyak kekecewaan? Mengapa saya dipersalahkan oleh orang-orang lain sekalipun saya berbuat baik?” Jawaban yang sederhana ialah: bila anda berbuat perbuatan baik, anda harus menghadapi kekuatan-kekuatan jahat. Bila tidak, anda sedang menghadapi karma tidak baik dari masa lalu yang masak dizaman sekarang. Teruslah dengan kerja baik anda dan akhirnya anda bebas dari kesukaran-kesukaran yang seperti itu. Ingatlah, bahwa anda telah menciptakan kekecewaan-kekecewaan anda sendiri dan anda sendirilah yang dapat mengatasi kekecewaan-kekecewaan ini, dengan menyadari sifat dari karma (aksi dan reaksi) dan kondisi-kondisi dunia sebagaimana dijelaskan Sang Buddha.

“Bila anda dapat melindungi diri anda, anda dapat melindungi orang-orang lain.”

RASA TERIMA KASIH ADALAH SIFAT BAIK YANG JARANG

Sang Buddha berpendapat, rasa terima kasih sebagai kebaikan yang mulia, tetapi sangat jarang sekali. Memang benar, bahwa kebaikan ini jarang terdapat dalam masyarakat. Anda tidak dapat selalu mengharapkan orang-orang lain berterima kasih terhadap apa yang anda telah perbuat bagi mereka. Orang cenderung lupa teristimewa bila mengingat jasa-jasa orang lain. Bila anda mengharapkan rasa terima kasih dari orang-orang lain, anda mungkin akan menjumpai kekecewaan. Jika orang tidak mampu menunjukkan rasa teirma kasih, belajarlah menerima hal yang sedemikian maka anda dapat menghindari kekecewaan. Anda dapat gembira tanpa peduli apakah orang berterima kasih atau tidak berterima kasih terhadap kebaikan dan pertolongan anda; anda hanya harus berpikir bahwa anda telah melakukan tugas anda sebagai manusia terhadap sesamanya. Hanya inilah balasan (imbalan) yang seharusnya anda cari.

“Dia yang mengetahui itu cukup, akan selalu berkecukupan” (Lau Tse)

JANGAN MEMBANDINGKAN DENGAN ORANG-ORANG LAIN.

Anda dapat membebaskan diri anda dari kerisauan dan kesukaran-kesukaran yang tidak perlu, hanya dengan cara tidak membandingkan diri anda dengan orang-orang lain. Selama anda memandang orang-orang lain sebagai orang yang “sama “ dengan diri anda, atau orang yang lebih “tinggi” dari anda, atau sebagai orang yang lebih “rendah” dari anda, anda akan terus menerus mempunyai persoalan-persoalan yang merisaukan. Tetapi bila anda tidak mengambil sikap yang sedemikian, tidak akan ada yang dirisaukan anda. BIla anda berpikir bahwa anda lebih baik dari orang-orang lain, anda dapat menjadi “sombong”. Bila anda berpikirb bahwa anda sama dengan orang-orang lain, anda mungkin menjadi “mandeg”. Bila anda berpikir anda lebih rendah dari orang-orang lain, anda dapat jadi merasa tidak berguna bagi anda sendiri dan orang-orang lain, Anda mungkin kehilangan rasa percaya diri.

Adalah sukar bagi kebanyakan orang untuk mengorbankan kesombongannya atau rasa “tinggi diri.” Tetapi anda harus belajar mengurangi atau menekan keangkuhan anda. Bila anda dapat mengorbankan keangkuhan anda maka anda akan mendapati kedamaian batiniah, dan anda dapat menolong manusia mendapatkan kedamaian dan kegembiraan. manakah yang lebih baik dijaga dan ditumbuhkan – keangkuhan anda atau kedamaian batiniah anda?

Membandingkan diri anda dengan orang-orang lain dapat menjadi sumber kerisauan yang tidak perlu. Cobalah untuk menyadari bahwa kesamaan dan kelebih-rendahan serta keleih-tinggian, semuanya adalah keadaan yang berubah-ubah dan bersifat nisbi (relatif); pada suatu waktu anda mungkin miskin; pada waktu lain anda mungkin orang kaya. Di dalam daur (siklus) lautan kehidupan dan kematian (samsara) yang tiada henti-hentinya, kita semua sama, lebih rendah dan lebih tinggi terhadap satu sama lainnya pada waktu yang berbeda. Jadi, mengapa mesti risau?

“Bila anda baik terhadap diri anda, anda baik terhadap orang-orang lain. Bila anda baik terhadap orang-orang lain, anda baik terhadap diri anda sendiri.”

BAGAIMANA MENANGANI SI PEMBUAT SUSAH

Pada satu pihak, anda harus menyadari bahwa disetiap waktu anda bertanggung jawab terhaedap kesusahan-kesusahan dan persoalan-persoalan yang menimpa anda. Pada pihak lain, anda harus mengetahui apa yang harus diperbuat untuk mengatasi gangguan-gangguan yang datang melalui keadaan-keadaan dan orang lain.

Anda harus belajar menangani sipembuat susah dan sipembuat jahat. Mereka juga adalah manusia; mereka juga harus dibawa kedalam lingkungan keagamaan. Setiap usaha harus dibuat untuk memperbaiki mereka dan bukannya memisahkan dan mengabaikannya. Bila anda cukup kuat menahan pengaruh jahatnya, tak ada alasan bagi anda untuk menghindari bergaul dengannya. Melalui pergaulan anda dengan sipembuat jahat, anda dapat mempengaruhinya untuk perbaikan. Ingatlah bahwa pengertian andalah yang melindungi anda dari sipembuat jahat dan memungkinkan anda mempengaruhi mereka untuk menjadi baik. Inilah pengertian yang akan melindungi anda dan menolong orang-orang lainnya.

Anda harus mengerti bahwa bila seseorang berbuat salah terhadap anda karena ketidak tahuannya atau salah mengerti, maka sudah waktunya bagi anda menunjukkan kebijaksanaan anda, pendidikan anda, simpati anda, kebudayaan anda dan sikap keagamaan anda. apakah gunanya keagamaan anda bila anda tidak belajar bagaimana berkelakuan sebagai orang yang beradab? Bila orang-orang lain berbuat salah kepada anda, anda harus menganggap tindakan mereka sebagai suatu kesempatan bagi anda mengembangkan kesabaran dan pengertian anda.

Kesabaran dan pengertian adalah sifat-sifat yang agung yang setiap orang harus kembangkan. semakin anda mempraktekkan sifat-sifat baik ini, semakin anda memelihara harga diri anda. Anda harus mengetahui bagaimana mempergunakan dengan baik sifat-sifat ini, dan hal itu akan menolong membebaskan anda dari banyak kemalangan dan penderitaan-penderitaan serta beban hidup. Kadang-kadang anda mungkin menjumpai orang-orang tertentu yagn mencoba mengambil keuntungan dari toleransi dan kesabaran anda. Maka anda harus mempraktekkan kebijaksanaan. Ingatlah bahwa semangat toleransi, kesabaran dan pengertian anda mempunyai pengaruh yang kuat atas musuh-musuh anda sehingga menyadarkan mereka bahwa mereka salah.

“Kesabaran itu pahit, tetapi buahnya manis.”
“Kebaikan harus dipraktekkan dengan bijaksana.”

MAAFKAN DAN LUPAKAN

Anda juga harus memahami bahwa membalas dendam kepada sipembuat susah hanya menimbulkan lebih banyak perasaan perasaan negatif dan tindakan-tindakan negatif hanya membawa celaka dan penderitaan bagi anda dan sipembuat susah. Untuk membalas dendam, anda mesti menimbulkan perasaan benci dalam hati anda sendiri. Kebencian ini adalah seperti racun yang anda suntikkan kepada sipembuat susah. Tetapi karena racun itu mula-mula ditimbulkan didalam diri anda, sudah tentu akan mencelakakan anda lebih dulu sebelum mencelakakan orang lain. Sebelum anda melempar orang dengan kotoran lembu, anda pertama-tama harus mengotori diri sendiri dengan kotoran lembu itu. Oleh sebab itu kelakuan anda sama dengan tindakan orang bodoh itu. Tidak ada perbedaan mendasar diantara anda dan sipembuat jahat itu. Dengan membenci orang lain, anda hanya memberi kuasa bagi mereka untuk menguasai anda. Anda tidak memecahkan persoalan anda. Bila anda marah kepada orang lain dan dia hanya tersenyum balik kepada anda tanpa menunjukkan kemarahan, maka anda adalah orang yang dikalahkan. Karena dia tidak bekerja sama dengan anda untuk memenuhi keinginan anda, dialah yang menang; anda yang dikalahkan.

Buddha mengatakan:

“Betapa gembira kita hidup tanpa kebencian diantara orang-orang yang penuh kebencian, diantara orang-orang yang penuh kebencian, kita hidup tanpa kebencian.”

Mungkin anda tidak cukup kuat untuk mencintai musuh-musuh anda; tetapi demi kesehatan dankegembiraan anda sendiri, anda sekuran-kurangnya harus belajar bagaimana memaafkan dan melupakan.

Dengan tidak membenci atau menghancurkan si pembuat susah, anda bertindak sebagai orang yang bijaksana dan beradab. Untuk bertindak seperti ini, anda harus mengerti bahwa orang lain itu telah diracuni oleh keserakahan, kemarahan, kecemburuan atau kebodohan. Dia tidak berbeda dengan manusia-manusia lain, yang juga pada satu-satu waktu diracuni oleh hati dan pikiran negatif yang sama. Buddha pernah mengatakan:

“Sipembuat jahat pada dasarnya tidaklah jahat. Mereka berbuat jahat karena bodoh.”

Kita seharusnya tidak mengutuk mereka. Tidak dapat dibenarkan menghukum mereka dengan penderitaan abadi. Sebaliknya, kita harus mencoba memperbaiki mereka. Kita harus berusaha menjelaskan kepada mereka bahwa mereka salah. Dengan pengertian ini, anda dapat menangani sipembuat jahat sebagai orang yang menderita sakit. Bila anda dapat senang dan gembira.

“Kehidupan yang baik disebabkan oleh cinta dan dibimbing oleh pengetahuan.”

Bila orang berbuat salah kepada anda karena kebodohannya atau salah paham, maka itulah waktunya kesempatan untuk memancarkan kasih danpengertian anda atas sipembuat jahat. Karena pada suatu masa dia akan menyadari kebodohannya dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya yang jahat. Oleh sebab itu, lebih baik memberikan kepadanya kesempatan untuk menjadi baik. Bila anda dapat memancarkan kasih kebaikan kepada sipembuat susah, maka pada suatu masa dia akan berubah menjadi orang yanbg lebih baik. Buddha pernah mengatakan:

“Kebencian tidak dapat dihentikan oleh kebencian, tetapi hanya dengan cinta kasih dapat dihentikan. Inilah hukum abadi.”

Bila anda dapat memakai cara memancarkan kasih kebaikan ini, maka tidak akan ada yang mencelakakan anda bila anda mencoba memperbaiki sipembuat jahat. Cara ini akan menolong anda mencapai atau mendapatkan bantuan fisik dan mental. Hidup berarti memberi dan mengambil; seperti mengeluarkan dan menarik nafas. Mereka-mereka yang tidak memahami ini, akan mendapat salah dan menghadapi kesukaran-kesukaran dalam hidupnya.

Bila seseorang terus-menerus berbuat salah kepada anda, anda harus bijaksana dan mencoba memperbaiki setiap kali dia berbuat salah. usahakanlah mengikuti contoh baik yang telah dibuat Sang Buddha, yaitu selalu membalas kejahatan dengan kebaikan. Beliau mengatakan:

“Makin banyak kejahatan yang datang kepada saya makin banyak maksud baik memancar dari saya.”

Ada orang berpendapat bahwa tidaklah praktis membalas “kejahatan” dengan “kebaikan”. Coba dan anda lihatlah sendiri. Bila anda berpendapat terlalu sukar membalas kejahatan dengan kebaikan, maka anda dapat membuat jasa yang besar bagi anda dan orang-orang lainnya dengan tidak membalas “kejahatan dengan kejahatan.”

“Pertimbangan yang simpati diperlukan bagi orang yang kurang mengerti.”

KITA SEMUA ADALAH MANUSIA

Manusia semuanya mempunyai kelemahan-kelemahan dan cenderung berbuat salah. Semua manusia mempunyai kelemahan “dasar” yaitu: Keinginan, kebencian dan kebodohan. Sedikit-banyaknya kelemahan-kelemahan ini ada dalam diri setiap manusia. Anda tidak terkecuali, kecuali anda orang yang sempurna atau seorang arahat.

“Manusia tidak puas dengan kehidupannya dan tidak pernah mendapati tujuan hidupnya sekalipun dunia ini telah menjadi miliknya.”

Marilah kita lihat lebih dekat kelemahan karena khayalan atau kebodohan; manusia tenggelam dalam kebodohan (ketidak-tahuan). Pikirannya diliputi oleh gangguan-gangguan, kesukaran dan kegelapan. Karena ketidak-tahuan. manusia menciptakan penderitaan dan dia membagi penderitaan terhadap sesamanya. Kemalangan dan kerisauan yang menimpa manusia disebabkan oleh kondisi duniawi, ketidak seimbangan manusia, pikiran yang tidak beradab dan reaksi manusia terhadap kejahatan yang diperbuat orang lain.

Tidak ada orang yang sempurna didunia ini; setiap orang dapat berbuat kesalahan-kesalahgan tertentu baik disengaja ataupun tidak disengaja. Bagaimana anda dapat berpikir bahwa anda bebas dari kesalahan?

“Ketakutan dan kerisauan menghilang bila ketidaktahuan digantikan oleh pengetahuan.”

Bila anda dapat memahami sifat dari kelemahan-kelemahan yang ada dalam pikiran manusia, maka tak ada alasan bagi anda mengeluh atas penderitaan-penderitaan dan kemalangan-kemalangan anda. Anda akan mempunyai keberanian menghadapi dan mentolerir semua kemalangan dan kerisuana serta penderitaan yang menimpa anda.

“Tak ada yang terjadi atas manusia yang tidak ada dalam diri manusia”. (C.Jung)

CINTA ORANG TUA

Anda bertanggung jawab atas kesejahteraan dan pemeliharaan anak-anak anda sendiri. Bila anak itu tumbuh menjadi sehat, kuat dan penduduk yang berguna, maka itu adalah hasil usaha anda. Bila anak itu tumbuh menjadi orang yang tidak memenuhi kewajibannya, andalah yang mesti bertanggung jawab. Jangan salahkan orang-orang lain. Sebagai orang tua, kewajiban andalah membimbing anak ke jalan yang benar.

Seorang anak, pada waktu umurnya masih muda membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tua. Tanpa cinta dan bimbingan orang tua, anak akan mengalami kesukaran dan akan mendapati bahwa dunia ini adalah tempat yang menakutkan untuk hidup. Tetapi cinta, kasih sayang dan perhatian orang tua tidak berarti memenuhi semua tuntutan anak baik yang wajar ataupun tidak. Terlalu banyak memanjakan anak akan merusak anak. Ibu dalam memberikan cintanya dan perhatiannya, seharusnya juga bersikap keras dan tegas dalam menangani anak anak. Bersikap keras dan tegas tidak berarti berlaku kejam terhadap anak. Tunjukkan cinta anda dengan tangan yang berdisiplin – anak akan memahaminya.

Sayangnya, diantara orang-orang tua masa sekarang ini cintanya sangat kurang. Kegilaan untuk mengejar kemajuan materi (kekayaan), gerakan pembebasan dan aspirasi untuk persamaan, telah memyebabkan banyak ibu-ibu mengikuti suaminya untuk bekerja dikantor atau ditoko dan t idak berada dirumah untuk memelihara anak-anaknya. Anak-anak yang ditinggalkan untuk diasuh keluarga atau pembantu yang mdibayar, akan kebingungan karena tidak mendapakan cinta dan perhatian yang keibuan. Si ibu, yang merasa bersalah karena kurang memperhatikan akan mencoba membujuk anak dengan memenuhi segala macam tuntutan anak. Tindakan yang demikian akan merusak anak. Memberikan anak segala macam alat permainan modern seperti; tank-tank, senapan mesin, pistol, pedang dan mainan lain yang serupa sebagai penenang, secara psikologis tidaklah baik. Anak diajar untuk memaafkan kerusakan dan bukan diajar untuk berlaku baik, kasih sayang dan membantu sesamanya. Memberi anak alat-alat permainan seperti itu tidaklah dapat mengganti cinta dan kasih sayang ibu. Tanpa adanya kasih sayang dan bimbingan ibu, maka tidaklah mengherankan bila akibatnya anak tumbuh menjadi nakal. Siapakah jadinya yang bersalah bila anak tumbuh menjadi anak yang nakal? Sudah tentu orang tuannya! Si ibu, terutama sesudah seharian bekerja keras di kantor yang diikuti melakukan pekerjaan-pekerjaan dirumah, hampir tak punya waktu lagi untuk anak yang merindukan kasih sayang dan perhatiannya.

Dalam perjuangan mencapai kesamaan diantara laki-laki dan wanita, banyak wanita berpikir bahwa pemecahannya ialah bersaing dengan laki-laki diluar rumah. Wanita-wanita yang demikian sebaiknya tidak mempunyai anak. Adalah sangat mementingkan diri sendiri melahirkan anak kedunia ini dan kemudian meninggalkannya. Anda bertanggung jawab atas apa yang anda ciptakan – anda bertanggung jawab agar anak dipuaskan tidak hanya secara material tetapi yang lebih penting dipuaskan secara rohani dan psikologis. Memberikan kesenangan material adalah nomor dua sesudah memberikan cinta dan perhatian orang tua. Kita tahu banyak orang-orang miskin membesarkan anak-anaknya dengan penuh cinta. Sebaliknya banyak orang-orang kaya memberikan kesenangan material kepada anak-anaknya tetapi tanpa cinta, anak-anak ini tumbuh tanpa perkembangan moral dan psikologis.

Ada wanita-wanita mungkin merasa bahwa mengajurkan mereka mengkhususkan diri dalam pemeliharaan keluarga adalah menjatuhkan dan “kolot”. Benar, dimasa lalu wanita-wanita telah diperlakukan dengan jelek, tetapi ini terutama karena ketidaktahuan kaum lelaki dan bukan karena kelemahan pengertian bahwa wanita yang membesarkan anak-anak. Perkataan Sanskrit untuk wanita ialah “Grukini” yang arti harafiahnya ialah “pemimpin rumah tangga.” Jelas ini tidak mengartikan bahwa wanita lebih rendah. Ini lebih menekankan pembagian tanggung jawab antara wanita dan laki-laki. Di Jepang, ada suami-suami yang menyerahkan setiap sen dari gajinya kepada istrinya yang mempunyai kontrol sepenuhnya atas urusan rumah tangga. Ini menyebabkan laki-laki bebas memusatkan perhatiannya atas apa yang dapat diperbuatnya dengan baik. Karena setiap pasangan jelas mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya, maka tidak ada pertengkaran dan suasana rumah tangga adalah berbahagia dan penuh kedamaian, dimana anak dapat menjadi dewasa dengan baik.

Sudah tentu suami harus berusaha agar pasanganya diperhatikan, dia diajak merundingkan putusan-putusan keluarga, bahwa cukup kebebasan bagi dia mengembangkan kepribadiannya, punya cukup waktu untuk melakukan kegemarannya dan sebagainya. Dalam pengertian ini, suami dan istri sama-sama bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarga dan tidak saling bersaingan satu sama lain. Seorang ibu harus mempertimbangkan betul-betul, apakah dia terus sebagai ibu yang bekerja atau ibu rumah tangga yang memberikan semua kasih sayang dan perhatiannya untuk kesejahteraan anaknya yang sedang tumbuh. Herannya, ada ibu-ibu modern berlatih memegang senjata api dan senjata-senjata lainnya, sedangkan seharusnya mereka memangku anak-anaknya dan melatihnya menjadi warga negara yang baik dan patuh kepada hukum.

Kecenderungan modern dan sikap dari ibu-ibu yang bekerja terhadap anak-anaknya, juga cenderung mengikis habis nilai yang paling baik yaitu kasih anak pada orang tua, yang diharapkan agar anak-anak memberikan kepada orang tuannya. Penggantian air susu ibu oleh susu botol juga salah satu sebab terkikisnya kasih sayang diantara ibu dan anak. Selama ini, ketika ibu memberi air susunya dan memangku bayi ditangannya, kasih sayang diantara ibu dan anak lebih besar dan pengaruh ibu atas anak demi kesejahteraannya lebih nyata. Dalam keadaan yang demikian, kasih sayang anak kepada orang tua, keakraban keluarga dan kepatuhan pasti akan ada. Ciri-ciri tradisional ini adalah untuk kebaikan dan kesejahteraan anak. Terserah kepada orang tua, teristimewa ibu untuk mengadakannya. Ibu bertanggung jawab untuk anak yang berkelakuan baik atau untuk anak yang mengalah. Ibu dapat mengurangi kenakalan! Pada tingkat pemikiran yang lebih tinggi, anda akan melihat segala sesuatunya sebagaimana adanya, dan bukan sebagaimana yang anda ingin lihat, maka anda akan mengetahui bahwa anda bertanggung jawab atas segalanya.

“Mereka yang hidupnya melawan alam, harus menghadapi akibat-akibatnya baik secara badaniah atau rohaniah.”

BAGAIMANA MENGURANGI PENDERITAN MENTAL ANDA

Bila saja kesukaran-kesukaran dan persoalan-persoalan tertentu timbul, ada berbagai jalan dan cara bagi anda untuk menyiapkan pikiran agar mengurangi penderitaan dan kesedihan mental anda. Yang pertama dan paling utama ialah anda harus mencoba sifat dunia dimana anda hidup. Anda harus menyadari, bahwa anda tidak dapat mengharapkan segala sesuatunya didunia ini sempurna dan berjalan lancar. Dunia tidak selalu sesuai dengan keinginan anda. Anda harus siap sedia menghadapi kesulitan-kesulitan dan persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Tak ada dunia dan tak ada kehidupan tanpa persoalan-persoalan.

Bila anda mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup dan kegilaan yang luar biasa untuk menikmati kesenangan-kesenangan indrawi dari dunia ini, anda harus membayar harganya dalam bentuk penderitaan fisik dan keresahan mental. Ini dapat disamakan dengan pembayaran sewa “rumah” yang anda diami – sewa itu berupa “penderitaan fisik dan keresahan mental,” dan “rumah” itu adalah badan fisik anda, yang anda tempati untuk sementara. Melalui “badan” anda, anda menikmati kesenangan-kesenangan indrawi anda dan anda harus membayar untuk itu. Tidak ada yang cuma-cuma di dunia ini. Tetapi, bila anda berkeinginan menghapuskan atau menghilangkan “penderitaan fisik” atau “keresahan mental”, anda harus mencoba untuk meninggalkan atau mengurangi dorongan keinginan yang kuat atau keinginan untuk kesenangan-kesenangan duniawi. Selama anda dikuasai “dorongan keinginan” ini, anda akan terkena penderitaan-penderitaan yang diakibatkannya. Untuk menghilangkan “penderitaan fisik dan keresahan” serta mendapatkan “kebahgiaan spiritual”, anda harus memilih. Tidak ada jalan lain. Oleh sebab itu, anda tidak seharusnya menuduh orang lain bila anda menjumpai persoalan-persoalan sewaktu anda menikmati kesenangan-kesenangan indrawi.

Salah satu cara untuk mendapatkan penghiburan atas keresahan mental dan kesedihan anda yang sekali sekali muncul ialah memahami tingkat penderitaan dan kesukaran anda dibandingkan dengan yang dialami orang-orang lain. Bila anda tidak bahagia, anda merasa dunia ini melawan anda. Anda berpikir segala sesuatu disekeliling anda akan hancur. Anda merasa akhir dari segala-galanya sudah dekat. Tetapi bila anda mencoba dalam pikiran anda mendaftarkan penderitaan-penderitaan anda dan berkat-berkat yang anda peroleh, dengan heran anda akan mendapati bahwa keadaan anda lebih baik dari banyak orang lainnya. Barangkali anda pernah mendengar ucapan, “Saya mengeluh tidak punya sepatu sampai saya bertemu dengan orang yang tidak punya kaki.” Pendeknya, anda telah membesar-besarkan kesukaran-kesukaran dan persoalan-persoalan anda. Banyak orang lain lebih buruk keadaannya dari anda dan mereka tidak risau secara berlebih-lebihan. Persoalan-persoalan selalu ada, dan anda seharusnya berusaha memecahkannya dan bukan merisaukannya serta menciptakan gangguan dan beban mental. Orang China mempunyai peribahasa praktis tentang memecahkan persoalan-persoalan:

“Bila anda mempunyai persoalan besar, usahakanlah menguranginya menjadi persoalan kecil. Bila anda mempunyai persoalan kecil, usahakanlah agar menjadi tidak ada.”

Cara lain yang dapat dipakai untuk membatasi kesukaran-kesukaran dan persoalan-persoalan anda dan menguranginya menjadi kadar yang wajar, ialah memperinci kembali apa yagn telah anda alami sebelumnya dalam keadaan yang sama atau dalam keadaan yang lebih buruk, dab bagaimana anda dengan kesabaran dan usaha anda telah dapat mengatasi kesukaran-kesukaran anda yang nampaknya tidak dapat diatasi. Dengan berbuat demikian, anda tidak membiarkan diri anda “ditenggelamkan” persoalan-persoalan dan kesukaran-kesukaran anda yang ada. Sebaliknya anda akan berketetapan hati memecahkan hal-hal atau persoalan-persoalan apa saja yang mungkin anda hadapi. Anda harus menyadari bahwa anda telah mengalami keadaan-keadaan yang lebih buruk, dan anda siap menghadapi persoalan apa saja yang datang. Dengan kerangka berpikir seperti ini, anda akan segera mendapatkan kepercayaan diri dan akan dapat menghadapi serta memecahkan persoalan-persoalan apa saja yang menunggu anda.

TIDAK SEMUA ORANG SAMA BAIKNYA

Kadang-kadang ada keluhan-keluhan dari orang-orang tertentu, yang tidak pernah menyebabkan atau menimbulkan kesusahan bagi orang-orang lain, bahkan mereka adalah korban yang tidak bersalah dari kesewenagan-wenangan orang lain. Jadinya mereka merasa frustasi (kesal) bahwa sekalipun mereka hidup baik-baik, mereka disakiti meskipun mereka tidak bersalah. Dalam keadaan yang demikian, korban yang tidak bersalah itu mesti menyadari dan mengetahui bahwa dunia ini terdiri dari banyak macam orang – yang baik dan yang kurang baik, yang jahat dan kurang jahat, dan banyak macam kegilaan. Korban yang tidak bersalah itu dapat menghibur dirinya bahwa dia termasuk kedalam golongan baik sedangkan sipengganggu kedamaian termasuk kedalam golongan jahat, dan bahwa pada peristiwa-perisitwa tertentu, dia akan tetap menghadapi perbuatan-perbuatan salah dari mereka-mereka yagn termasuk golongan jahat.

Hal yang hampir sama, dapat kita lihat pada “supir yang baik dan berhati-hati” dan “supir yang jelek dan sembrono,” supir yang baik dan berhati-hati berusaha mengendaria mobil dengan berhati-hati untuk mencegah kecelakaan. Tetapi begitupun supir yang baik dan berhati-hati itu menemui kecelakaan-kecelakaan yang bukan disebabkan kesalahannya, tetapi karena kesalahan supir yang jelek dan sembrono. Jadi kadang-kadang, orang-orang baik harus menderita, karena ada orang-orang jahat dan sembrono sepreti adanya supir yang jelek dan sembrono. Dunia yang demikian tidaklah buruk dan juga tidaklah baik. Dunia yang demikian menghasilkan penjahat-penjahat dan juga orang-orang suci, orang-orang bodoh dan orang-orang yang berpikir terang. Dari tanah liat yang sama, dapat dibuat barang yang indah dan buruk, barang yang berguna dan tidak berguna. Kwalitasnya bergantung kepada tukangnya, dan bukan kepda tanah liatnya. Dalam hal ini tukangnya adalah anda sendiri, yang satu-satunya bertanggung jawab menempuh kebahagiaan atau ketidak bahagiaan anda sendiri.

ANDA MENDAPATKAN APA YANG ANDA CARI

Bila anda mencoba sebaik-baiknya mengatasi kesukaran-kesukaran anda dengan mempraktekkan nasehat yagn diberikan dalam buku saku ini, maka pasti anda akan menjumpai kedamaian dankebahagiana serta keselarasan yang anda cari.

“Bila anda mengikuti tuannya, anjingnya tidak akan menggigit anda.”

CINTA KASIH SEJATI I

September 23, 2007 oleh ROCH AJIONO

Inilah yang harus dikerjakan oleh Mereka yang tangka dalam kebaikan

Untuk mencapai ketenangan

Ia harus mampu, jujur, sungguh jujur

Rendah hati, Lemah lembut, tiada sombong

Merasa puas, mudah disokong/dilayani

Tiada sibuk , sederhana hidupnya,

Tenang Inderanya, berhati-hati,

Tahu Malu, tak melekat pada keluarga.

Tak berbuat kesalahan walaupun kecil

Yang dapat dicela oleh para Bijaksana,

Hendaknya ia berpikir : Semoga semua mahluk berbahagia dan tentram

Semoga semua mahkluk berbahagia

Mahkluk hidup apapun juga,

Yang lemah dan kuat tanpa terkecuali

Yang panjang dan besar

Yang sedang, pendek, kecil atau gemuk.

Yang tampak atau tak tampak

Yang jauh ataupun dekat

Yang telah lahir ataupun yang akan lahir,

Semoga semua mahkluk berbahagia

Hello world!

Februari 10, 2007 oleh ROCH AJIONO

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!